Minggu, 02 Februari 2025

DOLI DOLI

Doli-doli adalah alat musik yang berupa empat bilah kayu lunak yang berasal dari Pulau NiasSumatera Utara. Alat musik ini sekilas mirip dengan alat musik kolintang, tetapi susunan kayu doli-doli tidak sebanyak kolintang dan ukurannya lebih kecil.[1] Cara memainkannya dengan dipukul menggunakan pemukul yang terbuat dari dua batang kayu.[2] Bahan utama pembuatan doli-doli adalah kayu, bambu, dan juga batang pohon. Alat musik ini dimainkan bersamaan dengan alat musik Nias lainnya, lagia, fondrahi, gondra atau gendang, tutuhao, nduridana, ndurimbewe, faritia dan lain-lain. Doli-doli dimainkan pada saat santai di ladang, saat duka cita atau kesepian, upacara adat atau ritual, religi dan lain-lain.


 

KENDANG


Kendang adalah jenis alat musik membranofon yang terbuat dari kulit. Keberadaannya sendiri dipercaya sudah ada sejak zaman logam prasejarah di Indonesia, alias zaman perunggu. Kendang tertua yang ditemukan diyakini berasal dari masa neolitikum. Bentuknya sangat sederhana: sepotong batang kayu berongga yang ujungnya ditutup kulit ikan atau reptil. Alat tersebut dimainkan dengan ditepuk.

Kendang di Indonesia pada abad pertengahan awalnya baru dikenal di Pulau Jawa tepatnya Jawa Tengah, alat musik ini dikenal masyarakat Jawa Kuno sejak pertengahan abad ke-9 Masehi.[3] dengan berbagai nama, seperti: padahi, pataha (padaha), murawaatau muraba, mrdangga, mrdala, muraja, panawa, kahala, damaru, kendhang. Sumber sastra tertua tentang gendang (padahi dan muraba) ditemukan dalam dua piagam Jawa Kuno masing-masing tahun 821 dan 850 M.[4][5] yang dapat dijumpai pada prasasti Kuburan Candi yang berangka tahun 821 Masehi (Goris, 1930). Seperti yang tertulis pada Kakawin Nagarakretagama gubahan Empu Prapañca tahun 1365 Masehi (Pigeaud, 1960), istilah tersebut terus digunakan sampai dengan zaman Majapahit.


 

KECAPI

 


Kecapi (bahasa Inggrislute) adalah sebuah alat musik dawai yang dipetik dengan leher (baik ditekan atau tidak) dan punggung dalam yang melingkupi rongga berlubang, biasanya dengan lubang suara atau lubang di badan. Lebih khusus, istilah "kecapi" dapat merujuk pada instrumen dari keluarga kecapi Eropa. Istilah ini juga merujuk secara umum pada instrumen dawai yang memiliki dawai yang berjalan di bidang yang sejajar dengan tabel suara (dalam sistem Hornbostel-Sachs). Dawai melekat pada pasak atau pasak di ujung leher, yang memiliki beberapa jenis mekanisme putar untuk memungkinkan pemain untuk mengencangkan ketegangan pada tali atau melonggarkan ketegangan sebelum bermain (yang masing-masing menaikkan atau menurunkan nada tali), sehingga setiap dawai disetel ke nada tertentu (atau nada).

Kecapi dipetik atau dipetik dengan satu tangan sedangkan tangan lainnya "fret" (menekan ke bawah) string pada fingerboard leher. Dengan menekan senar pada tempat fingerboard yang berbeda, pemain dapat memperpendek atau memperpanjang bagian dari senar yang bergetar, sehingga menghasilkan nada yang lebih tinggi atau lebih rendah


ANGKLUNG


Angklung (Aksara Sunda Bakuᮃᮀᮊᮣᮥᮀ) adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang berkembang dari masyarakat Sunda. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Dictionary of the Sunda Language karya Jonathan Rigg, yang diterbitkan pada tahun 1862 di Batavia, menuliskan bahwa angklung adalah alat musik yang terbuat dari pipa-pipa bambu yang dipotong ujung-ujungnya menyerupai pipa-pipa dalam suatu organ, dan diikat bersama dalam suatu bingkai, digetarkan atau digoyangkan untuk menghasilkan bunyi.[1]

 

SAPE


Sape (Sampe, Sampek, Sampeh, Sapeh) adalah sebuah alat musik tradisional dari beberapa sub suku Dayak, yang tinggal di rumah-rumah panjang di sepanjang sungai Kalimantan TimurKalimantan UtaraKalimantan Barat dan Sarawak. Asal usul Sape adalah daripada Usun-Apau, Sarawak, Malaysia di mana asal usul Kaum Kenyah. Kemudian, Sape ini dikembangkan kepada suku-suku Orang Ulu yang lain seperti Kayan. Sape diukir dari sebuah batang kayu tunggal, dengan beberapa alat musik berukuran mencapai lebih dari semeter. Alat musik ini berjaya dibangunkan oleh Tusau Padan dan dipopularkan oleh artis-artis dari Sarawak, Malaysia seperti Alena Murang, Jerry Kamit, At Adau, Sada Borneo dan Tuku Kame' ke peringkat luar seperti Portugal, Amerika dan China. Album Sape diproduksi di Studio LUH Production di Sarawak dan memiliki album musik tradisi terbanyak seterusnya menjadi catatan sejarah buat Sape. Di Indonesia, Sape dipopulerkan oleh Uyau Moris, Thambunesia, Baby Borneo dan seniman lokal Kalimantan lainnya.



 

LINK TEMAN

 1.RIKY

2.RASYA

3.AQSA

4.SURYA

5.LABIB

6.PIO

7.AZZAM

8.DAFFA

9.FAIRUZ

10.FAIZ

11.ANTON

12.ALIFIA

13.AIRIN

14.CACA

15.KEYLA

16.CALISTA

17.CITRA

18.ANNA

19.NORREN

20.KYLA

DOLI DOLI